22 Jelaskan teknik-teknik apa yang tepat digunakan dalam pembuatan seni kriya dengan bahan berikut ini! a. Tanah liat b. Kayu c. Rotan d. Kulit binatang e. Semen Jawaban: a. Tanah liat → teknik butsir. b. Kayu → teknik pahat/sambung. c. Rotan → teknik sambung. d. Kulit binatang → teknik pahat/sungging. e. Semen → teknik plester. 23. Logamini biasanya juga digunakan dalam pembuatan koin, Kerajinan daerah Wayang kulit adalah sebuah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di daerah Jawa. Kata Wayang berasal dari kata 'MaHyang' yang berarti menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa. Jenis kayu yang biasanya digunakan sebagai bahan JenisJenis Teknik Seni Grafis Dalam penggunannya terdapat beberapa macam-macam teknik dalam seni grafis, antara lain sebagai berikut; a) Cetak Tinggi (Relief) Menurut Rokhmat (1997:40), cetak tinggi adalah teknik cetak dengan klise yang permukaanya tinggi rendah, bagian permukaan yang tinggi adalah tempat melekatnya pigmen warna yang merupakan Salahsatu hal yang harus kita ingat adalah perbedaan antara musik/lagu yang terstruktur dan yang tidak terstruktur. Musik yang terstruktur memiliki sebuah beat yang dapat didengar dan dihitung. Dalam Wayang Kulit, beat ini disebut "gatra". Saat para pemain musik dalam pertunjukan Wayang Kulit memainkan musik yang terstruktur, kita dapat merasakan bahwa mereka seperti sedang "berhitung". Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd. Pola Membuat Wayang – Wayang adalah salah satu seni tradisional Indonesia yang telah dikenal di seluruh dunia. Wayang merupakan boneka kayu atau kulit yang digunakan untuk bercerita tentang mitologi dan sejarah sebagian orang, membuat wayang adalah sebuah kegiatan yang menyenangkan dan menjadi kebanggaan tersendiri. Namun, membuat wayang tidaklah mudah, dibutuhkan ketelitian dan keahlian dan Bahan yang DibutuhkanLangkah-langkah Membuat Pola Wayang1. Membuat Sketsa Wayang2. Membuat Pola Wayang dari Sketsa3. Menyalin Pola Wayang ke Media Kayu4. Menggambar dan Mewarnai WayangJenis WayangPenutupAlat dan Bahan yang DibutuhkanUntuk membuat pola wayang, diperlukan beberapa alat dan bahan berikut iniKertasPensilPenggarisGuntingKayu atau kulit sapi atau kerbauCat kayuKuasBerikut adalah panduan langkah demi langkah untuk membuat pola wayang1. Membuat Sketsa WayangSketsa wayang dapat dibuat dengan mengamati beberapa gambar wayang atau bisa juga dengan membuat sendiri. Buatlah sketsa wayang di atas kertas dengan ukuran sesuai Membuat Pola Wayang dari SketsaSetelah sketsa wayang selesai, gambarlah pola wayang pada kertas pola dengan ukuran yang lebih besar dari sketsa awal. Gunakan penggaris untuk membuat garis-garis pola dengan Menyalin Pola Wayang ke Media KayuSetelah pola wayang jadi, salin pola tersebut ke media kayu. Caranya dengan menempelkan kertas pola pada media kayu menggunakan kertas itu, gambar pola pada media kayu menggunakan pensil. Setelah selesai, keluarkan kertas pola dari media Menggambar dan Mewarnai WayangSetelah pola wayang terpasang pada media kayu, langkah selanjutnya adalah menggambar dan mewarnai wayang. Gunakan pensil untuk menggambar wayang di atas media kayu dan cat kayu untuk mewarnai wayang. Setelah cat kayu kering, wayang dapat diukir untuk memberikan dimensi pada WayangSebelum membuat pola wayang, pertama-tama perlu dipahami pengertian dan jenis-jenis wayang. Wayang kulit dan wayang golek merupakan jenis wayang yang paling populer di kulit biasanya terbuat dari kulit sapi atau kerbau, sedangkan wayang golek terbuat dari wayang adalah sebuah kegiatan yang menyenangkan dan membutuhkan ketelitian dan keahlian mengikuti panduan di atas, diharapkan dapat membantu Anda dalam membuat pola wayang yang tepat dan akurat. Jangan lupa untuk terus berlatih dan mengembangkan kreativitas Anda dalam membuat wayang yang unik dan menarik! Uploaded bySri Putri Ayu 0% found this document useful 0 votes480 views2 pagesOriginal Titlesoal animasiCopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document0% found this document useful 0 votes480 views2 pagesSoal AnimasiOriginal Titlesoal animasiUploaded bySri Putri Ayu Full descriptionJump to Page You are on page 1of 2Search inside document You're Reading a Free Preview Page 2 is not shown in this preview. Buy the Full Version Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. Pertunjukkan wayang kulit merupakan warisan seni dan budaya Indonesia yang sangat indah dan harus dijaga kelestariannya. Dari suatu pertunjukkan wayang, kita bisa banyak belajar beragam pendidikan kesenian di dalamnya, mulai dari seni rupa,seni gerak, seni suara, seni musik dan juga seni sastra. Selain itu pendidikan moral pun bisa kita dapatkan di sana. Salah satu yang bisa kita pelajari yaitu seni rupa dan seni ukir. Wayang kulit yang menjadi tokoh peraga dalam sebuah pertunjukkan wayang kulit ternyata melalui proses pembuatan yang cukup panjang. Mulai dari penyiapan bahan dasar pembuatanya, yaitu kulit yang biasanya dari kulit kerbau atau kulit sapi, sampai tahap pemasangan cempurit. Proses Persiapan Bahan/pengolahan Kulit Kulit yang bagus untuk membuat wayang kulit adalah biasanya adalah kulit kerbau atau sapi yang masih muda. Kulit yang masih muda memiliki serat-serat yang lebih halus sehingga akan lebih awet dan tidak mudah patah. Proses pengolahan kulit adalah sebagai berikut Kulit direndam dalam air selama satu hari, agar kulit menjadi lunak sehingga akan mempermudah proses selanjutnya. Setelah itu kulit dipentang kembali dan dijemur hingga kering. Kulit yang telah kering kemudian ditipiskan yaitu dengan cara dikerok. Bagian yang dikerok adalah sisa-sisa daging yang masih melekat pada kulit bagian dalam dan bagian yang masih ada rambutnya. Kulit yang sudah dikerok, kemudian dibersihkan dengan kain halus yang telah dibasahi air, dan untuk menghaluskannya, kulit diamplas bisa menggunakan daun jati kering sebagai amplas. Kulit yang telah dikerok dan dihaluskan, lalu dijemur kembali hingga kering secara merata. Proses Tatah Wayang Diperlukan konsentrasi dan keterampilan serta rasa seni yang tinggi dalam tahap ini. Namun sebelum proses tatah, lembaran kulit yang telah disiapkan dibuat sketsa wayang yang akan dibuat. Proses ini disebut Nyorek corek. Peralatan Yang Digunakan Pandukan, yaitu landasan tatah yang terbuat dari kayu samba, kayu trenggulun atau kayu sawo. Tindih yaitu logam seberat sekitar 2,5 Kg, biasanya terbuat dari kuningan, namun terkadang juga ada yang terbuat dari besi. Tindih berfungsi untuk menekan atau memberati wayang kulit yang sedang ditatah. Sehingga kulit tidak bergeser kesana kemari sehingga hasilnya pun bagus. Tatah merupakan alat yang paling penting dalam proses tatah wayang kulit. Setidaknya harus tersedia 10 macam tatah dalam pembuatan wayang kulit ini. Namun pada dasarnya tatah bisa dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu tatah lantas atau tatah lugas, yakni tatah yang mata tatahnya berupa garis lurus, dan tatah kuku yang mata tatahnya berupa lengkungan. Ganden yaitu semacam palu besar yang terbuat dari kayu biasanya dari kayu asem atau sawo. Selain peralatan utama di atas, ada beberapa peralatan tambahan yang digunakan diantaranya adalah jangka, paku corekan, pensil, mistar atau penggaris, penghapus dan batu asahan. Jenis Tatahan Setidaknya ada 16 macam jenis tatahan dalam seni kriya wayang kulit. Berikut ini adalah jenis-jenis tatahan pada Wayang Kulit gagrak Surakarta dan Yogyakarta. 1. Tatahan Tratasan Tatahan ini digunakan untuk membuat pola semacam garis, baik garis lurus maupun yang melengkung lebar dan menyudut. Tatahan tratasan hampir selalu diselang-seling dengan tatahan bubukan, dengan maksud agar kulit di bagian yang ditatah itu tidak mudah patah atau robek. 2. Tatahan Bubukan Berupa lubang-lubang kecil berderet, yang digunakan untuk membuat kesan gambaran garis. Biasanya tatahan bubukan diseling dengan tatahan tratasan. Tatahan berseling antara tratasan dengan bubukan ini juga disebut tatahan lajuran atau tatahan lajur saja. 3. Tatahan Untu Walang Berupa garis-garis terputus. Alat yang digunakan untuk membuat tatahan untu walang adalah tatah trentenan. Tatahan untu walang disebut juga tatahan semut ulur. 4. Tatahan Bubuk Iring, atau Buk Iring Berupa lubang-lubang yang membentuk deretan seperti huruf U. Biasanya tatahan ini digunakan untuk mengerjakan bagian wayang yang disebut ulur-ulur dan uncal kencana. Tatahan ini juga sering disebut bubuk ring atau bubukan iring. 5. Tatahan Kawatan Disebut juga tatahan gubahan biasanya digunakan untuk `mengisi’ sumping, bagian praba, dan garuda mungkur. 6. Tatahan Mas-Masan Berupa deretan selang- seling antara titik dan koma, yang biasanya digunakan untuk mengerjakan bagian uncal kencana, sumping, gruda mungkur, kalung dan jamang. 7. Tatahan Sumbulan Biasanya dikombinasikan dengan tatahan mas-masan, digunakan untuk mengerjakan bagian kalung, jamang, dan sebagainya. 8. Tatahan Intan-intan Digunakan untuk mengisi bagian sumping, berselang-seling dengan tatahan kawatan. Bentuk tatahan ini, yang juga disebut tatahan intan-intanan, seperti bunga mekar, tetapi hanya separuh. Istilah Wayang berasal dari kata ma hyang, wewayangan atau wayangan yang berarti menuju kepada roh spritual, dewa atau Tuhan Yang Maha Esa. Di dalam buku jawa kuno memuat kata wayang yaitu ayang-ayang yang artinya gambaran fantasi tentang bayangan manusia. Wayang dalam bahasa melayu berarti bayang-bayang. Dalam bahasa Bikol dikenal kata baying, artinya barang yang dapat dilihat secara nyata. Dalam bahasa Aceh bayeng, bahasa Bugis wayang atau bayang Lisbijanto, 2013.Cerita wayang diambil dari buku Mahabharata dan Ramayana. Kesenian wayang sudah ada di Indonesia sejak zaman Kerajaan Hindu. Pertunjukan wayang kulit yang dapat kita lihat saat ini telah melalui beberapa perkembangan dari bentuk dan ceritanya. Awalnya wayang digunakan sebagai upacara keagamaan oleh orang Jawa, sampai pada akhirnya Islam oleh para Walisanga menggubahnya dengan tujuan digunakan sebagai media dakwah Agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Raja-raja Jawa pada saat itu menempatkan wayang sebagai kesenian yang mempunyai nilai yang tinggi. Dalam beberapa hal, para Raja mengambil bagian-bagian dari wayang untuk dipakai sebagai lambang Amir 1997 dan Mulyana 1989, berdasarkan dari beberapa teori, asal usul wayang dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitua. Kelompok Jawa Berdasarkan teori dari kelompok Jawa menganggap wayang-wayang berasal dari Jawa. Teori ini dikemukakan oleh beberapa ahli diantaranya Hazeu, Brandes, Rentse, Kats, dan Kruyt. Menurut Hazeu yang mengupas secara ilmiah tentang pertunjukan wayang kulit dan menyelidiki istilah-istilah sarana pertunjukan wayang kulit, yaitu Wayang, kelir, dalang, blencong, kepyak, kotak dan Hazeu, wayang berasal dari jawa, alasannya adalah Struktur wayang diubah menurut model yang amat tua. Cara berbicara ki dalang tingi rendah suaranya, bahasanya, dan ekspresi-ekspresinya juga mengikuti tradisi yang amat tua. Desain teknis, gaya dan susunan lakon-lakon ini juga bersifat khas juga berpendapat bahwa wayang asli berasal dari Jawa. Alasannya wayang erat sekali hubungannya dengan kehidupan sosial, kultural dan religius masyarakat Jawa. Bahwa dalam wayang terdapat cerita-cerita melayu Indonesia kuno dan beberapa tokoh dalam wayang seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong berasal dari Jawa. Di samping itu, bangsa Hindu mempunyai bentuk wayang yang berbeda sekali dengan wayang Jawa. Akhirnya, Brandes menyatakan, semua istilah-istilah teknis dalam wayang adalah istilah-istilah Jawa dan bukan Sanskrit. Demikian pula Kats dan Kruyt berpendapat bahwa wayang berasal dari Jawa, disertai dengan argumentasinya masing-masing untuk menguatkan Kelompok India Teori yang menganggap bahwa wayang berasal dari India dikemukakan oleh teori dari Pischel, Kram, Poensen, dan Ras. Pischel mencoba membuktikan asal usul wayang yang menurutnya dari India melalui frase kata Rupparupakam yang terdapat dari Mahabarata dan kata Ruppapanjipane yang terdapat dalam Therigata, yang keduanya yang berarti teater Kram, wayang adalah suatu kreasi Hindu Jawa, adapun alasan argumentasinya adalahWayang ada di Jawa dan di Bali saja, yakni dua daerah yang mengalami pengaruh kebudayaan Hindu yang paling banyak. India lama mengenal teater bayangan. Wayang menggunakan bahan-bahan cerita dari uraian tentang teori-teori itu berarti belum dapat ditarik kesimpulan bahwa wayang berasal dari Jawa atau India. Bukti-bukti yang menyertai itu amat lemah dan hanya berdasar perkiraan-perkiraan Wayang Menurut Ali 2010, Ismunandar 1994 dan Sunarto 1989, terdapat beberapa jenis wayang yang ada di Indonesia, antara lain adalah sebagai berikuta. Wayang Purwa Kata purwa dipakai untuk membedakan wayang jenis ini dengan wayang kulit lainya. Wayang purwa atau wayang kulit purwa berarti awal pertama. Wayang purwa diperkirakan mempunyai umur yang paling tua diantara wayang kulit lainya. Wayang kulit purwa terbuat dari bahan kulit kerbau yang ditatah, diberi warna sesuai dengan kaidah pulasa wayang pedalangan, diberi tangkai dari bahan tanduk kerbau bule, yang diolah sedemikian rupa dengan nama cempurit, yang terdiri dari tuding dan umumnya lakon cerita yang dibawakan dalam wayang purwa diambil dari Ramayana dan Mahabarata. Bentuk wayang ini sangat berbeda dengan tubuh manusia pada umumnya dan diukir dengan sistem tertentu sehingga perbandingan proporsi antara bagian satu dengan lainnya seimbang. Pada mulanya bentuk wayang purwa didasarkan pada bentuk relief candi, lambat laun bentuk itu mengalami perubahan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan pribadi masyarakat Indonesia Jawa.berdasarkan ukurannya, wayang purwa terdiri dari beberapa jenis, yaitu Wayang Pedalangan. Jenis wayang pedalangan ini adalah wayang kulit yang ukuran besarnya umum dipergunakan dalam masyarakat. Wayang Kaper. Wayang kaper adalah ukuran wayang kulit yang terkecil. Pada umumnya wayang kaper diperuntukkan bagi anak-anak yang mempunyai bakat dalam bidang pewayangan pedalangan. Wayang Kidang Kencanan. Wayang kidang kencanan adalah salah satu jenis ukuran wayang kulit yang lebih besar dari jenis wayang kaper. Jenis wayang ini juga sering disebut kencana yang berarti sedang. Maksud dari pembuatan wayang jenis ini supaya bila digunakan dalam pentas tidak terlalu berat. Wayang Ageng. Wayang ageng merupakan jenis ukuran wayang kulit yang terbesar dari jenis yang lain. Wayang ageng untuk keperluan pertunjukan pergelaran wayang tidak memenuhi syarat-syarat kepraktisan. Hal ini dikarenakan, wayang ini tidak sesuai dengan kekuatan dalang untuk memainkannya dengan baik selama pertunjukan semalam Wayang Gedog Wayang gedog atau wayang panji atau wayang yang memakai cerita dari serat panji yang merupakan cerita raja-raja Jenggala, yaitu mulai dari Prabu Sri Ghataya Subrata sampai dengan Panji Kudalaleyan. Wayang ini mungkin telah ada sejak zaman Majapahit, wayang gedog yang kita kenal sekarang, konon diciptakan oleh Sunan Giri pada tahun 1485 pada saat mewakili Raja Demak yang sedang melakukan penyerbuan ke Jawa Timur. Sebutan wayang gedog berasal dari pertunjukan wayang gedog yang mula-mula tanpa iringan kecrek besi, sehingga bunyi suara keprak, dog, sangat dominan. Bentuk wayang gedog ini mirip dengan bentuk wayang purwa, tetapi tidak menggunakan gelung supit urang pada tokoh-tokoh rajanya. Pada wayang jenis ini tidak diketemukan wayang-wayang raksasa dan wayang-wayang kera. Semua memakai kain kepala yang disebut hudeng Wayang Madya Wayang Madya adalah wayang kulit yang diciptakan oleh Mangkunegara IV sebagai penyambung cerita wayang purwa dengan wayang gedog. Cerita wayang madya merupakan peralihan cerita purwa ke cerita panji. Salah satu cerita wayang madya yang terkenal adalah cerita Anglingdarma. Wayang madya tidak sempat berkembang di luar lingkungan Pura Mangkunegaran. Pada umumnya wayang Madya tokoh-tokoh raja tidak memakai praba sinar atau nimbus, suatu perhiasan yang dipakai pada punggung setiap raja, sebagai lambang kedudukannya. Cara memakai kainnya ialah dengan apa yang dinamakan banyakan laksana tabiat angsa.d. Wayang CalonarangWayang calonarang juga sering disebut sebagai wayang leyak, adalah salah satu jenis wayang kulit Bali yang dianggap angker karena dalam pertunjukannya banyak mengungkapkan nilai-nilai magis dan rahasia pangiwa dan panengen. Wayang ini pada dasarnya adalah pertunjukan wayang yang mengkhususkan lakon-lakon dari cerita calonarang. Kekhasan pertunjukan wayang calonarang ini terletak pada tarian sisiya-nya, yaitu dengan teknik permainan ngalinting dan adegan ngundang-ngundang, dimana sang dalang membeberkan atau menyebut nama-nama mereka yang mempraktekkan Wayang Krucil Wayang krucil pertama kali di ciptakan oleh pangeran Pekik dari Surabaya. Wayang ini terbuat dari bahan kulit dan berukuran kecil sehingga lebih sering disebut dengan wayang Krucil. Dalam perkembangannya, wayang ini menggunakan bahan kayu pipih dua dimensi yang kemudian dikenal sebagai wayang klithik. Di daerah Jawa Tengah, wayang krucil memiliki bentuk yang mirip dengan wayang gedog. Tokoh-tokohnya memakai dodot rapekan, berkeris, dan menggunakan tutup kepala tekes kipas. Sedangkan di Jawa Timur, tokoh-tokohnya banyak yang menyerupai wayang kulit purwa, raja-rajanya bermahkota dan memakai praba. di Jawa Tengah, tokoh-tokoh rajanya bergelung keling atau garuda mungkur Wayang Kulit Betawi Dipastikan bahwa tradisi bentuk pertunjukan wayang kulit betawi memang berasal dari Jawa. Ada ahli yang menyatakan bahwa wayang kulit masuk ke Betawi pada zaman penyerbuan Sultan Agung Hantjokrokusumo ke Mataram tahun 1682-1629. Walaupun kemungkinan besar wayang kulit betawi berasal dar Mataram, tetapi perkembangannya kemudian dalam kurun waktu puluhan tahun secara eksistensilah sama sekali tidak adanya keterikatan dengan daerah asal tradisi bentuk kesenian tersebut. Bahkan juga tidak terpengaruh tradisi bentuk pertunjukan wayang golek Sunda di Jawa Barat yang secara faktual memang banyak Wayang Klitik Boneka wayang ini wujudnya pipih, walaupun tidak setipis kulit dan dibuat dari kayu. Lengan atau tangannya dibuat dari kulit sapi atau kerbau. Jenis wayang ini untuk menceritakan tanah Jawa, khususnya kerajaan Majapahit dan Wayang Golek Boneka ini kebanyakan berpakaian jubah baju panjang, tanpa berkain panjang, memakai serban ikat kepala ala Arab, memakai sepatu, pedang, dan perlengkapan yang lainnya, digerakkan secara bebas dan terbuat dari kayu yang bentuknya bulat seperti lazimnya boneka. Cerita wayang jenis ini bersumber pada serat Menak, yang berisikan cerita Arab. Tetapi ada beberapa daerah yang menggunakan cerita yang biasa digunakan dengan jenis wayang Purwa, yaitu Ramayana dan Kesenian Wayang Alat-alat yang digunakan dalam seni wayang cukup banyak sekali. Hal ini dapat dilihat dari wayang serta seperangkat gamelan yang digunakan, dengan begitu membuat wayang sangat berbeda dengan hiburan-hiburan lainnya seperti orgen tunggal, seni tari dan seni yang Pendi 1999, alat-alat yang digunakan dalam kesenian wayang adalah sebagai berikut Wayang. Wayang menurut susunannya terbagi menjadi dua yaitu 1 Wayang sampingan adalah wayang yang selama pertunjukan di samping kiri dan kanan. Pengelompokan wayang sampingan untuk bagian kiri dan kanan sesuai dari watak dan tabiat masing-masing kelompok kanan yang bertabiat baik dan kiri bertabiat jahat. 2 Wayang Dhudahan adalah tokoh yang sedang dimainkan ditengah-tengah kelir. Kelir. Kelir adalah tabir dari kain putih dengan atas bawah dan di samping kiri kanan dihias warna hitam putih dengan bagian atas bawah di samping kiri kanan dihias warna hitam atau merah yang disebut pelangitan dan bagian bawah disebut pelemahan. Blonceng. Blonceng adalah alat penerangan untuk pengelaran wayang berupa lampu minyak. Pada umumnya menggunakan minyak kelapa karena minyak kelapa lebih tahan lama dibandingkan minyak biasa. Kotak. kotak ini digunakan sebagai tempat penyimpanan wayang pada pagelaran berlangsung. Kotak dipergunakan sebagai penyimpanan wayang dhudahan yang berada pada sebelah kiri adalah Penyikat wayang yang disusun di dalam kotak wayang. Cemiala yaitu alat khusus yang digunakan oleh dalang untuk memukul kotak. Kepyak/kecrek, dibuat dari lempengan logam yang dibuat dari besi, kuningan, perunggu dan lain sebagainya. Gedebong yaitu batang pisang untuk menancapkan wayang kulit pada saat dimainkan. Gamelan adalah seperangkat alat musik yang menonjolkan gendang dan gong setiap pertunjukan wayang selalu diiringi gamelan yang mengalunkan irama yang dimanis sesuai suasana dalam pertunjukan wayang orang diperlukan panggung yang berfungsi sebagai tempat para pemain memainkan cerita wayang. Dalam panggung pertunjukan tersebut terdapat beberapa layar yang dipakai sebagai latar belakang setiap episode/adegan. Layar yang menggambarkan suasana kerajaan untuk adegan menghadap Raja, layar yang menggambarkan yang menggambarkan suasana hutan untuk adegan perjalanan di dalam hutan, layar yang menggambarkan suasana taman untuk adegan santai di taman, dan lain sebagainya. Ada juga layar untuk menutup panggung dari penonton agar pergantian adegan tidak terlihat oleh pertunjukan dilengkapi lampu sorot warna-warni yang dipakai yang dipakai sebagai pendukung suasana setiap adegan, memberi efek cahaya bagi setiap adegan. Selain wayang juga diperlukan tempat untuk menancapkan wayang. Dalam pertunjukan wayang orang pasti ada orang yang memerankan tokoh pewayangan. Pemain wayang orang haruslah seorang yang mempunyai ketrampilan menari dan nembang dalam hal ini sang dalang harus pandai mempermainkan seni wayang PustakaLisbijanto, Herry. 2013. Wayang. Yogyakarta Graha Ilmu. Amir, Hazim. 1994. Nilai-nilai Etis Dalam Wayang. Jakarta Pustaka Sinar Sri. 1989. Simbolisme dan Mistikisme Wayang; Sebuah Tinjauan Filosofis. Jakarta Gunung Rif’an. 2010. Buku Pintar Wayang. Yogyakarta Gara 1994. Wayang, Asal Usul dan Jenisya. Semarang Dahara 1989. Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarta. Jakarta Balai Hasan. 1999. Wayang Wong Sriwedari. Yogyakarta Yayasan Adi Karya.

jenis teknik 2d yang digunakan dalam pembuatan wayang kulit adalah